Peran Ki Hadjar Dewantara Dalam Pendidikan Indonesia


Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh yang berperan penting dalam pendidikan Indonesia. Berperan dalam menjawab diskriminasi pendidikan yang diselenggarakan pemerintah kolonial Belanda. Pada masa kolonial Belanda, sejumlah bupati menginisiasi pendirian sekolah kabupaten yang hanya mendidik calon pegawai. Disamping itu, secara bersamaan lahir sekolah bumiputera pada 1854. Sekolah yang terdiri atas tiga kelas ini memfokuskan untuk belajar membaca, menulis, berhitung. Sehingga sistem pendidikan masa kolonial tidak memberikan kesempatan bagi penduduk pribumi belajar sepenuhnya. Oleh karena itu, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta pada 3 Juli 1922. Lahirnya Taman Siswa dilatarbelakangi karena cara pendidikan dan pengajaran di sekolah hanya ditunjukan untuk kepentingan kolonial. Lahirnya Taman Siswa juga sebagai tanda kemerdekaan dan kebebasan kebudayaan bangsa Indonesia (Ora, Felisitas. B, 2011: 70-71). Ki Hadjar Dewantara berpedoman pada lima prinsip yang disebut Panca Darma dalam melaksanakan pendidikan di Taman Siswa. Lima prinsip yang dimaksud, diantaranya prinsip kemerdekaan, prinsip kebangsaan, prinsip kemanusiaan, prinsip kodrat alam, prinsip kebudayaan. (Yanuarti, Eka. 2017: 252-254). Dalam pembukaan Taman Siswa yang pertama, Ki Hadjar Dewantara juga mengajak masyarakat untuk membangun kebudayaan dan pandangan hidup dengan menanamkan benih kemerdekaan melalui pendidikan yang bersifat nasional dalam berbagai macam aspek (Wiryopranoto, dkk. 2017: 204). Pasca kemerdekaan, pengaruh Ki Hadjar Dewantara tidak hilang dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Bahkan pemikiran atau pandangannya mengenai pendidikan masih digunakan sampai saat ini. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan dapat memberikan dorongan terhadap perkembangan peserta didik. Pendidikan juga menuntun peserta didik untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat (Ainia, Dela Khoirul. 2020: 97, Dewantara, 2009). Oleh karena itu, pemikiran atau pandangan Ki Hadjar Dewantara masih relevan dengan pendidikan di Indonesia sampai sekarang.

Komentar