Tentang mimpi
Hai nama saya Lilis indasari blog ini berisi tentang perjalanan hidup selama meraih mimpi. Ada kiasan mengatakan jika ingin meraih mimpi maka bangun dan bergegaslah namun, jika hanya sekedar bermimpi maka cukup tertidur saja dan jangan salahkan jika hanya sebuah imajinasi buka realita.
Stay enjoy dan selamat membaca;)
MERAIH
MIMPI
Keesokan
harinya, sebelum matahari terbit, Aku menyusuri jalan raya Selok Kebonan.
Menggeng erat jari jemari mengayuhkan kaki perlahan walupun keringat bercucuran.
Namun, tetap Aku ayuhkan demi meraih sebuah impian. Pagi ini sisa-sisa hujan membasahi
jalanan, hembusan angin menggugurkan daun-daunan pohon jati. Awal yang baru
bagi anak SD yang sudah menginjak masa SMP. Semua tujuan hidup, prioritas,
mimpi berubah total. Mungkin mimpiku banyak tetapi keberanian dan motivasi
belum aku dapatkan. Seorang anak biasa sesudah lulus SMP berkeinginan untuk
kerja di pabrik cukup sederhan bukan. Pemikiranku setelah itu berbeda aku mulai
merangkai mimpi-mimpi baru. Mimpi yang akan menjadi tujuan dalam perjalanan
hidup ini walaupun, pertanyaan-pertanyaan ‘’Apakah aku bisa’’ seringkali
menjadi jawaban yang belum mampu aku jawab. Diremehkan, direndahkan, diacuhkan
mungkin menjadi sumber motivasi terbesar untuk mewujudkan mimpi.
Kegiatan
yang jarang aku lakukan sepulang sekolah yaitu belajar. Rasanya sangat berat
ketika sekolah SD namun, semenjak SMP kebiasaan buruk itu mulai aku tinggalkan.
Belajar rutin, mengerjakan soal-soal, aktif ketika pembelajaran coba aku
lakukan. Hari-hari tidak terlepas dengan buku bahkan aku seringkali jengkel
jika belum menemukan jawaban dari soal yang aku kerjakan. Marah ketika ulangan
nilainya tidak sesuai harapan, hal tersebut merupakan sebuah proses
pembelajaran. Tetapi, aku tidak menyerah tetap tekun dan bertanya kepada
guru-guru terutama guru matematika. Sebenarnya aku tidak begitu banyak bergaul
dengan teman-teman di kelas sebab aku terlalu asik dengan duniaku sendiri.
Selesai pembelajara biasanya aku pergi ke ruang guru untuk bertanya tentang
materi yang belum aku pahami. Lambat laun hal ini menjadi kebiasaan, sesuai
dengan harapan aku menuai apa yang aku tanam. Sebenarnya hal ini terasa
mustahil aku merasa semua orang belajar, bahkan ada yang lebih pintar
melebihiku. Mungkin ini hasil dari kerja keras selama ini sehingga predikat
juara satu paralel dapat aku raih.
‘’Lis
kamu juaranya ya, wah diam-diam ternyata kamu mengahanyutkan ternyata’’ tutur temanku. Pernyataan itu terasa masih
menempel dalam otakku. Aku bersyukur semua kerja keras, usaha, dan doaku dapat
dikabulkan. Selain itu, aku juga bersyukur memiliki teman-teman yang luar biasa
seperti Jalal si motivasi, Hendrik si penyemangat, Kevin si cuek, dan Laila si
lelucon. Serta Bu Heni guru IPA terbaik tempat curhat dan keluh kesah. Hal yang
sangat berkesan ketika teman sekolah menjadi lawan dalam meraih predikat juara
seolah ada perasaan-perasaan iri dan persaingan antara aku dan temanku. Namun,
kami tetap berteman baik bahkan menjadi sangat dekat sebagai seorang teman. Menggenggam
erat piala sebagai juara satu lulusan terbaik merupakan anugrah yang sangat
berharga di hari kelulusan sekolah. Mulai hari itu aku percaya adanya harapan,
mimpi, cita-cita atau apapun itu namanya akan aku genggam erat menelusuri
jalanan menghadapi berbagai rintangan yang datang dengan mengucapkan BISSMILAH
aku mulai mengukir mimpi menggapai cita-cita yang tinggi.
Menginjak
masa SMA berbagai hambatan dan rintangan mulai datang. Kelas sepuluh prestasi
masih dapat diraih namun, sejak kelas sebelas malas belajar, putus asa, dan
sering bermain menjadi tantangan tersendiri sampai akhirnya nilaiku menjadi
turun drastis di kelas sebelas, sama halnya ketika duduk di kelas duabelas. Menyadari
hal ini tidak boleh terus berlanjut ole karena itu, aku sadar harus kembali dan
fokus pada tujuan awal. Masa-masa paling bimbang ketika lulus SMA apakah harus
melanjutkan kuliah ataupun bekerja. Pertimbangan dari keluarga yang tidak
mendukung karena biaya kuliah yang sangat besar menjadi kebimbangan tersendiri.
Keinginan yang besar untuk kuliah membuat aku nekad untuk terus melanjutkannya.
Bermodalkan google map bersama teman-teman tanpa sanak saudara untuk pertama
kalinya pergi ke Malang menjalani tes SBMPTN sungguh pengalaman yang sangat
berharga. Selamat Anda di terima di UNIVERSITAS JEMBER Prodi Pendidikan
Sejarah. Perjalanan ini masih berlanjut di bangku kuliah, beriringan dengan
dengan asa dan tekad seorang anak tunggal meninggalkan rumah untuk mencari ilmu
di tanah rantau. jika semangatku memudar dan aku mulai putus asa ingatkan
bahkan tegur dengan kata-kata tajam. Terima kasih untuk teman 7 tahun yang
selalu jadi motivator dan teman baru yang katanya bisa menjadi segalanya,
terimah kasih sudah mengingatkan dengan butiran-butiran kata mutiaranya. Mulai
saat ini bersama teman-teman manusia purba (anak sejarah) tetap semangat, mari
berjuang demi anak-anak Indonesia dan masa depan yang gemilang.
Komentar
Posting Komentar